Mewujudkan Guru Profesional dan Berjiwa Pendidik

Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), jumlah tenaga pendidik atau guru di banten sebanyak 2.320 orang. Namun, dari jumlah tersebut, hanya beberapa yang memenuhi kualifikasi.

Rektor Universitas Negri Jakarta (UNJ) Prof. Dr. Djaali menilai Indonesia saat ini mengalami kritis guru profesional, karna sebagian besar guru di tanah air hanya berprofesi sebagai pengajar. Bahkan ironisnya, ada diantara mereka yang berprofesi sebagai guru hanya untuk mencari nafkah (rri.co.id, 10/06/17).

“guru profesional sangat penting bagi bangsa Indonesia, sebab tidak ada bangsa yang maju di dunia ini tanpa pendidikan yang berkualitas, dan tidak ada pendidikan yang berkualitas tanpa guru yang profesional. Tapi guru profesional saja tidak cukup. Yang kita harapkan adalah guru profesional yang berjiwa pendidik. Artinya guru yang mencurahkan semua tenga, pikiran dan waktunya untuk kepentingan anak didiknya. Dengan kata lain, guru profesional ini mewakafkan dirinya untuk kepentingan masa depan bangsa, karena masa depan bangsa ada pada anak didik kita hari ini” ungkapan Prof. Dr. Djaali.

Sejak dihapuskannya akta IV pada tahun 2005, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) menyelenggarakan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) atau dapat dikatakan pula sebagai pengganti dari akta IV, dengan tujuan untuk menyiapkan calon-calon guru yang profesional.

Guru SMAN 10 Kota Serang Usup Supriyatna, S.Pd mengatakan, untuk kegiatan PPG sendiri sebenarnya setuju, karna dalam kurun waktu 1 semester diberikan ilmu tentang bagaimana caranya untuk menjadi seorang guru yang profesional.

Program akan berjalan baik apabila sosialisasi tersebut juga berjalan dengan baik. Salah satunya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan secara rutin untuk guru-guru, misalkan perintah dari Kementrian Pendidikan dan Pelayanan (KEMENDIKBUD) lalu turun ke Provinsi, Provisis sendiri mencangkup SMA dan SMK. Setelah hal tersebut, pihak sekolah dapat mengirim beberapa guru untuk mengikuti pelatihan, pemilihan dilakukan secara bergilir sehingga semua guru dapat mengikuti pelatihan.

Akan tetapi, ditengah pencapaian demi pencapaian tersebut, kita masih mendengar kisah miris tentang kondisi pendidikan di daerah plosok. Tentang sebagian guru yang belum optimal melaksanakan tugasnya. Masih ada sekolah di pedalaman yang memiliki guru minim kualitas, juga kuantitas.

Hal tersebut terjadi karna kurangnya pemerataan guru yang profesional di daerah pelosok. Sudah menjadi rahasia umum, guru yang profesional lebih memilih untuk mengajar di daerah kota di bandingkan dengan mengajar di daeah plosok.

Salah satu fakta yang ditemukan oleh Tim Mengajar GUIM (Gerakan UI Mengajar) Muhammad Nuzul dan Angga Dunia Saputra adalah kurangnya tenaga pendidik yang terdapat di Desa Cipeuti, Kecamatan Sobang. Untuk menuju ke sekolah harus berjalan kaki hingga menghabiskan waktu selama 3 jam.

Tanpa kita pungkiri di Provisi Banten pendidikan masih belum merata, bisa kita lihat di beberapa plosok perdesaan, terutama di Kabupaten Pandegelang dan Kabupaten Lebak. Pada dua Kabupaten tersebut, untuk menuju lokasi sekolah SD/MI saja mereka harus menempuh jarak berkisar 2-4 KM, SMP/MTS 3-5 KM dan SMK/SMA/ALIYAH 5-8 KM. Sungguh sangat miris sekali, masih jauh dari kata pendidikan yang merata di banten. (BanteInfo.Com,11/03/18)

Dampaknya, daerah plosok akan asal dalam memilih guru, sehingga siswa yang baru lulus SMA dan  bahkan guru yang tidak linier (guru dengan lulusan PGSD tetapi mengajar di SMA) sudah dapat mengajar. Sehingga mereka yang berprofesi sebagai guru di pelosok hanya untuk mencari nafkah, dan tidak dapat di katakana sebagai guru yang profesional.

Hal ini menyebabkan Provinsi Banten tertinggal, padahal Provinsi Banten adalah tetangga Provinsi DKI Jakarta yang merupakan ibu kota Indonesia, Sungguh sangat miris dan teragis Hal tersebut harus menjadi perhatian pemerintah daerah, seperti yang tertuang pada UU No. 32 Tahun 2004 bahwa urusan pendidikan merupakan salah satu kewajiban yang menjadi kewenangan pemerintah.

Sehingga menurut penulis, tidak cukup hanya dengan menjadi guru yang profesional, tetapi harus berjiwa pendidik. Karna, bicara tentang guru yang profesional pasti sudah banyak, tetapi guru yang profesional dan berjiwa pendidik itu yang masih kurang. Apabila sudah banyak guru profesional dan berjiwa pendidik, pasti akan lebih mudah pemerintah untuk melakukan pemerataan guru

You may also like...