Santri di Mata Nonsantri

Santri di Mata Nonsantri

“Selamat hari santri nasional!” kalimat tersebut sontak menjadi trending di media sosial. Beberapa teman banyak yang menyematkannya sebagai tulisan dengan latar belakang foto para santri maupun santriwati yang tak lain adalah foto mereka waktu masih ‘mondok’. Unggahan itu memenuhi deretan instastory dalam akun instagram saya. Oh, pantas saja, hari ini hari santri nasional.

Saya pribadi belum pernah mencicipi pondok pesantren. Saya tidak benar-benar mengerti bagaimana rasanya mondok, selain dari cerita-cerita yang saya dengar dari teman-teman. Sebuah kebetulan saya kuliah di kampus Islam, jadi teman-teman saya banyak yang merupakan alumni pondok pesantren.

Hari santri nasional bisa dibilang merupakan buah janji politik Presiden RI Joko Widodo pada pilpres 2014 silam. Hal ini mengacu kepada peran santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang tak lain dan tak bukan adalah Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda.

Rabu, 22 April 2015 bertempat di Hotel Salak Bogor kala itu, berkumpulah ormas Islam yang mengirimkan perwakilannya untuk membahas suatu  agenda penting tentang kapan pastinya Hari Santri  Nasional ditetapkan. Dilansir dari CNNIndonesia, beberapa  diantaranya adalah Al Irsyad, DDI, Persis, Muhammadiyah, MUI, dan juga pakar Islam Azyumardi Azra.

Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah NU, KH Abdul Ghoffar Rozien yang akrab disapa Gus Rozien, menceritakan bahwa kala itu beragam pemikiran muncul dalam pertemuan tersebut. Pada akhirnya, pemikiran-pemikiran itu bermuara pada sebuah keputusan ditetapkannya Hari Santri Nasional pada 22 Oktober.Keppres nomor 22 tahun 2015 kemudian menyusul seiring ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Meski begitu, berbagai polemik sempat mewarnai penetapan Hari Santri Nasional, seperti adanya kekhawatiran tentang munculnya anggapan eksklusifisme santri yang menimbulkan polarisasi antara santri dan nonsantri. Namun, Gus Rozien menolak anggapan tersebut. Menurutnya, sejarah tentang santri yang memegang peranan sangat penting untuk kemerdekaan negara lebih utama untuk dipertegas, bukan persoalan santri dan bukan santri.

Polemik selanjutnya adalah adanya gerakan politik. Hal ini dibenarkan oleh Gus Rozien. Namun, gerakan politik tersebut bukan bersifat praktis, melainkan gerakan politik kebangsaan yang menegaskan bahwa Hari Santri menjadi momentum untuk mengingatkan orang agar senantiasa menjaga kelanggengan dan kerukunan NKRI.

Ma’ruf Amin juga berpendapat serupa. Baginya, langkah yang dilakukan terkait Hari Santri masuk dalam kategori politik kebangsaan yang mengajak pesantren untuk berpikir dengan cara politik kebangsaan, bukan terlibat pada politik praktis. Tetapi, aspirasi politiknya tetap boleh dipilih sendiri oleh pesantren dengan gerakan yang terarah pada urusan pendidikan, pemahaman, dan pemikiran, meski politiknya adalah politik kebangsaan.

Jadilah Hari Santri Nasional diperingati pada 22 Oktober setiap tahunnya. Biasanya, selain mengunggah foto saat masih mondok sebagai bentuk nostalgia, poster Hari Santri juga menjadi atribut yang memenuhi beberapa sudut kota.

Poster tersebut juga dibuat dalam bentuk foto yang bisa diedit bersanding dengan foto diri sendiri, sebagai bentuk bahwa ‘si empunya’ foto adalah seorang santri. Teman-teman saya juga demikian.

Saya paham, mendewasa dan menuntut ilmu bersama di pondok pesantren tentu akan menjadi kenangan yang dirindukan. Sekali waktu pernah saya berkunjung ke tempat teman saya yang kebetulan kuliah sambil mondok di salah satu pondok pesantren salaf di Kaligawe, Semarang. Waktu itu saya memang sempat punya rencana untuk mengikuti jejak teman saya untuk mondok disana.

Saya sedikit tertegun ketika mendapati kamarnya yang berisikan delapan orang. Lebih tertegun lagi saya ketika teman saya bilang bahwa jumlah tersebut termasuk sedikit. Ada juga kamar yang ditempati oleh 15 orang. Selama sepersekian detik saya berusaha tetap tenang meski dalam hati kaget bukan kepalang. Tidak terbayang bagaimana teman saya berhasil mondok selama hampir 9 tahun!

Dulu sekali, waktu saya tamat SD, orang tua saya sempat ingin memasukkan saya ke pondok pesantren. Waktu itu saya terang-terangan menolak. Berpisah jauh dari orang tua menjadi hal paling berat yang belum sanggup saya lakukan.

Apalagi bayangan tentang pondok pesantren yang serba disiplin dan tidak memperbolehkan santrinya menonton tv membuat saya yang saat itu masih berusia 11 tahun mantap  untuk bilang tidak.

Meski demikian, banyak teman-teman saya yang langsung mondok setelah lulus SD. Orang tua mengambil peran penting dalam keputusan ini. Mengirim anaknya dengan usia masih sangat kecil untuk menuntut ilmu dan hidup jauh dari orang tua tentu bukanlah hal yang mudah.

Namun, pemahaman dan prinsip yang kuat akan pentingnya menanamkan pendidikan agama sejak kecil pada akhirnya mampu mengalahkan perasaan ’eman’ dan sedih dalam hati orang tua, terutama ibu.

Ada sepotong penyesalan dalam hati saya kenapa dulu tidak memberanikan diri untuk mondok. Kalau saya lihat teman-teman saya yang alumni pondok pesantren itu keren, lho! Mereka memiliki kemampuan public speaking yang lebih baik dari saya. Pengetahuan agama yang baik juga menjadi nilai plusnya.

Selain itu, mereka juga kebanyakan memiliki sikap disiplin dan mampu menyelesaikan tugas sebanyak apapun secara tepat waktu. Teman saya pernah berseloroh bahwa itu semua adalah hasil dari sengatan setrum waktu dihukum di pondok pesantren dulu. Saya hanya tertawa dan menerka-menerka, “itu beneran nggak ya?”

You may also like...